Pengertian Trafficking perempuan

Sebenarnya kekhawatiran soal trafficking bukan saja isu local akan tetapi menjadi isu global. Menurut laporan Asian Development Bank (ADB) paling tidak sebanyak satu sampai dua juta manusia diestimasi telah diperjual belikan setiap tahun diseluruh dunia. Menurut laporan tersebut, sebagian besar penjualan orang berasal dari negara miskin, 150.000 dari negara Asia Barat dan 225.000 dari negara Asia Tenggara.( Jurnal Perempuan 29, 2003:4)

Istilah trafiking sendiri diperkenalkan oleh wacana PBB sebagai trafficking in persons dengan defenisi sebagai berikut:
“Perekrutan, pengiriman, pemindahan, penampungan, atau penerimaan seseorang, dengan ancaman, atau penggunaan kekerasan, atau bentuk-bentuk pemaksaan lain, penculikan, penipuan, kecurangan, penyalahgunaan kekerasan, atau posisi rentan, atau memberi atau menerima bayaran atau manfaat untuk memperoleh ijin dari orang yang mempunyai wewenang atas orang lain, untuk tujuan eksploitasi” .( Jurnal Perempuan 29, 2003:4)

Identifikasi elemen dalam trafiking in persons adalah mencakup pemindah tanganan seseorang dari satu pihak, kepihak lain, menggunakan ancaman atau pemaksaan, dengan tujuan eksploitasi.

Trafficking tidak identik dengan pelacuran, persoalannya masih menurutnya bukan satu-satunya tujuan trafficking dan tidak semua kasus pelacuran adalah korban trafficking.  Dalam trafficking perlu elemen pemindah tanganan seseorang, dari satu pihak ke pihak lainnya dan menggunakan ancaman, penipuan dan penguasaan. Trafficking juga bukan perdagangan perempuan karena didalamnya ada unsure bias gender mengingat korban trafficking tidak selalu perempuan dan trafficking mengandung elemen pengalih tanganan yang tujuannya bisa untuk apa saja, baik ekspolitsi tenaga kerja (kasus bonded labor) atau untuk pembantu rumah tangga (PRT).

Trafficking juga bukan migrasi illegal, smuggling atau illicit transfer karena dalam trafficking harus ada unsur constent (persetujuan sadar). Isu trafficking bukan merupakan suatu pelangggaran keimigrasian melainkan kejahatan.

Trafficking in persons harus mencakup elemen pemindah tanganan seseorang dari pihak satu kepihak lainnya, yang meliputi kegiatan rekrutmen, transportasi (pengangkutan/ pemindahan), transfer (alih tangan), penampungan dan penerimaan. Elemen berikutnya adalah menggunakan ancaman, pemaksaan, peyalahgunaan kekuasaan atau posisi ketidak berdayaan, pembayaran atau pemberian sesuatu untuk mendapatkan persetujuan (dari korban), atau untuk menguasai korban. Akhirnya elemen trafficking mencakup tujuan eksploitasi yang meliput pemanfaatan orang dalam prostitusi atau dalam bentuk eksploitasi seksual lainnya, kerja paksa (tenaga fisik maupun layanan jasa), perbudakan atau praktek-praktek menyerupai perbudakan, penghambaan (servitude) atau pengambilan organ tubuh.

Menipu, meyekap, menganiaya, dan kemudian memperdagangkan anak-anak perempuan untuk kepentingan eksploitasi seksual komersial sesunggguhnya adalah bentuk tindak kejahatan kemanusiaan yang paling keji dan sangat melukai perasaan. Bisa dibayangkan, hati siapa yang tak tertohok dan siapa pula yang tak mengutuk keras-keras ketika menyaksikan ada sekelompok orang yang tega menjual serta menjerumuskan anak-anak belia yang masih lugu dalam dunia prostitusi secara paksa demi kepentingan pribadi mereka.

Anak-anak di bawah umur yang semestinya memandang dunia dengan mata berbinar, hidup aman-tentram di bawah perlindungan dan kasih saying keluarganya, tiba, tiba harus tercerabut masuk ke dalam situasi yang eksploitatif dan kejam, menjadi korban sindikat perdagangan anak dan dilacurkan. adakah rasa peduli terbersit di benak kita akan nasib anak-anak perempuan yang menjadi korban trafficking dan eksploitasi seksual komersial. Siapa pula sebetulnya yang mesti bertanggung jawab menangani kasus perdagangan anak yang makin meluas ke berbagai wilayah dan semakin mencemaskan.

Secara konseptual, yang dimaksud perdagangan perempuan dan anak-anak sebetulnya tidak hanya untuk kepentingan prostitusi atau bisnis jasa pelayanan seksual. Tetapi, intinya meliputi aktivitas perekrutan yang bernuansa penipuan maupun paksaan, pemindahan manusia dari suatu tempat ke tempat lain-bisa antar pulau atau bahkan lintas negara-untuk tujuan eksploitasi. Dalam berbagai kasus, anak-anak yang diperdagangakan seringkali mereka diperkerjakan pada sector yang berbahaya, pekerjaan terlarang, dijadikan kurir narkoba, untuk kerja paksa, pembantu rumah tangga, mengemis bahkan dijadikan korban eksploitasi seksual dalam bentuk pornografi, prostitusi maupun dikorbankan untuk para pedofil. Terkadang juga anak-anak diculik untuk kepentingan adopsi atau bahkan tak jarang sebagian di antaranya dimanfaatkan organ tubuhnya untuk kepentignan medis. Yang belakangan ini sering terjadi dalam bentuk organ tubuhnya yang sehat diambil untuk ditransplantasikan kepada orang-orang kaya yang membutuhkan.

Secara lengkap, menurut perspektif yang dikeluarkan PBB, cakupan pengertian perdagangan anak pada dasarnya adalah
meliputi kegiatan mencari, mengirim, memindahkan, menampung atau menerima tenaga kerja dengan ancaman, kekerasan, atau bentuk-bentuk pemaksaan lainnya, dengan cara menculik, menipu, memperdaya, (termasuk membujuk danmengiming-iming) korban, menyalahgunakan kekuasaan atau wewenang atau manfaat ketidaktahuan, keingintahuan, kepolosan, ketidakberdayaan dan tidak adanya perlindungan terhadap korban, atau dengan memberikan atau menerima pembayaran/ imbalan untuk mendapatkan ijin/ persetujuan dari orang tua, wali tau orang lain yang mempunyai wewenang atas diri korban, dengan tujuan untuk menghisap dan memeras (mengeksploitasi) korban.(Jurnal Perempuan 29, 2002:50).

Sedikitnya ada tiga unsure penting dibalik fenomena perdagangan anak perempuan. Pertama adanya praktek penipuan dan pemaksaan, kedua memanfaatkaan ketidakberdayaan korban dan keluarga korban dan ketiga adanya eksploitasi yang keji dan menjadikan korban sebagaimana layaknya komoditi yang bisa diperjualbelikan dengan sesuka hati.

Global Alliance Againts Traffic In Woman (GAATW) mendefinisikan

“Perdagangan Perempuan sebagai semua usaha atau tindakan yang berkaitan dengan perekrutan, transportasi didalam atau melintasi perbatasan, pembelian, penjualan, transfer, pengiriman atau penerimaan seseorang dengan menggunakan penipuan atau tekanan termasuk penggunaan atau ancaman penggunaan kekerasan atau lilitan utang dengan tujuan untuk menempatkan atau menahan orang tersebu, baik dibayar maupun tida, untuk kerja yang tidak diinginkan (domestik, seksual atau reproduktif), dalam kerja paksa atau ikatan kerja dalam kondisi seperti perbudakan, dalam suatu lingkungan lain dari tempat dimana orang itu tinggal pada waktu penipuan, tekanan atau lilitan utang pertama kali”.(Jurnal Perempuan 29, 2002:152)

Hal yang perlu disadari disini bahwa perempuan yang diperdagangkan, adalah korban yang sudah dipindahkan kelingkungan asing.

This entry was posted in Reviews and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Pengertian Trafficking perempuan

  1. Monchows says:

    Terima kasih atas infonya,..
    Sangat membantu,!!
    ^^

Leave a Reply